Pendi On Marketing Research

Descriptive, Predictive & Diagnostic

Kesalahan Dalam Pengukuran

Posted by mrpendi pada Februari 13, 2008

Pengukuran adalah pemberian angka yang merefleksikan karakteristik suatu objek. Sebuah pengukuran belum tentu memberikan nilai atau angka sebenarnya atas suatu karakteristik yang diukur, melainkan lebih cenderung hanya memberikan nilai atau angka observasi atas karakteristik yang diukur. Contohnya, jika kita mengukur luas lautan yang ada di bumi, seberapa luaskah laut itu sebenarnya? Pengukuran luas lautan memberikan suatu angka yang merupakan nilai berdasarkan hasil observasi. Misalkan hasil pengukuran tersebut menghasilkan angka 30 juta km persegi. Apakah angka ini merupakan angka sebenarnya atas luas lautan di bumi ini? Bisa jadi luas lautan sebenarnya adalah 35 juta km persegi. Dapat pula 28 juta km persegi. Selisih antara hasil observasi yang kita dapatkan dengan angka sebenarnya disebut error. Setiap pengukuran pasti mengandung unsur error (measurement error), baik itu yang sifatnya konstan maupun yang tidak konstan.

Menurut True Score Model (Malhotra, et.al., 2002), skor suatu objek yang diukur (X0) dipengaruhi oleh systematic error (XS), random error (XR), dan true score dari karakteristik objek yang diukur itu sendiri (XT). Dalam persamaan matematis, ini dapat dilambangkan sebagai berikut:

X0 = XT + XS + XR

Systematic error (XS) mempengaruhi akurasi pengukuran secara konstan (terus-menerus). Error ini mempengaruhi observed score (X0) dengan sifat yang sama setiap kali pengukuran dilakukan, misalnya karena factor mekanis, method error dan systematic respondent error. Contoh method error adalah instrument alat ukur yang tidak bekerja dengan akurat sebagaimana mestinya. Misalnya, kita menimbang berat badan petinju kelas berat dunia Mike Tyson, maka alat timbangan yang kurang sempurna dapat membuat berat badan Tyson 500 gram kurang atau lebih dari berat badan sebenarnya. Method error juga dipengaruhi oleh factor mekanis seperti instruksi yang tidak jelas kepada responden pada kuisioner, tampilan kuisioner yang tidak sempurna sehingga tidak terbaca dengan jelas oleh responden, susunan pernyataan yang terlalu padat sehingga membingungkan responden, atau kurang jelasnya cara untuk menjawab skala yang diberikan.

Contoh systematic respondent error adalah adanya social desirability bias, yaitu kecenderungan seseorang untuk menjawab pertanyaan sedemikian rupa sehingga membuat dirinya kelihatan positif sesuai dengan norma yang standar yang diakui banyak orang. Misalnya, seseorang yang memiliki social desirability bias yang tinggi akan menjawab bahwa ia sangat puas dengan pekerjaannya (over-reporting), berkomitmen tinggi terhadap perusahaan tempat ia bekerja dan berkeinginan kecil sekali (under-reporting) untuk mencari pekerjaan baru di tempat lain. Contoh lain untuk systematic respondent error adalah pengaruh factor inteligensia atau pendidikan responden. Inteligensia dan pendidikan responden bisa mempengaruhi akurasi hasil penelitian, terutama pada penelitian ilmu social. Misalkan si Dadi melakukan penelitian tentang sikap masyarakat di pesisir pantai terhadap pentingnya kelestarian terumbu karang. Tingkat pendidikan akan mempengaruhi cara berfikir mereka tentang pentingnya kelestarian terumbu karang terhadap produktivitas mereka sebagai nelayan.

Contoh systematic respondent error lainnya adalah acquiescence response sets, yaitu kecenderungan responden untuk setuju atau tidak setuju dengan item-item pada kuisioner tanpa memandang apa pun isi item yang ditanyakan pada kuisioner tersebut. ini adalah fenomena responden untuk menjawab “ya” atau “tidak” sesukanya. Dengan demikian, systematic error sifatnya melekat (inherent) dalam suatu pengukuran, baik karena error pada metode atau alat yang digunakan untuk pengukuran maupun karena error pada responden yang sifatnya permanen.

Random error (XR) mempengaruhi akurasi pengukuran karena factor transien atau factor situasional. Factor transien, seperti perubahan emosi, fisik, atau kelelahan responden bisa membuat jawaban yang diberikan responden kepada peneliti menjadi kurang atau tidak akurat. Factor situasional misalnya karena kehadiran orang lain, suara berisik atau gangguan lainnya sehingga mempengaruhi akurasi jawaban responden.

Error yang kita bahas di atas baru merupakan sebagian dari kemungkinan kesalahan yang ada. Masih ada sumber error lainnya, diantaranya non response error, yaitu kesalahan yang diakibatkan adanya beberapa responden yang termasuk dalam sampel tetapi tidak merespon penelitian. Penyebabnya bisa dua macam, yaitu menolak menjadi responden (refusals) dan sedang tidak ada ditempat (not-at-homes). Penolakan calon responden disebabkan oleh berbagai alasan,  diantaranya: tidak memiliki waktu, tidak ingin diganggu, kuisioner terlampau panjang dan kompleks, topic penelitian tidak menarik, topic penelitian merupakan isu sensitive, sikap pewancara kurang sopan, dan beraneka alas an lainnya. Selain itu ada omitted variable error, yaitu kesalahan  yang dikarenakan adanya variable yang hilang, baik sengaja maupun tidak disengaja. Tipe kesalahan berikutnya adalah sampling error, yaitu ketidakakuratan karena penentuan ukuran sampel yang salah, sampel yang dipilih tidak representative, penentuan sampling frame yang keliru dan sebagainya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: